Puisi: Cintaku Tak Ikut Renta

Jadi teringat masa pacaran romantis dulu. Hehehe

Azan subuh kudengar tanda pagi menjelang
Sontak ku lihat sosok yang selalu tidur di sampingku ini
Terdengar lirih nafasnya, lalu ku sentuh dahinya. Masih hangat

Tak lupa syukur kuucapkan kepadaNya
Karena kita masih bersama di hari yang spesial ini
Ya, tepat hari ini kita menikah empat puluh tahun silam

Semua berawal dari perjodohan oleh orang tua kita
Semula aku tak setuju atas rencana itu
Namun orang tuaku memaksaku untuk melihatmu sekali saja
Dan di rumahmu di Solo, kita akhirnya bersua
Pertama kali kita beradu pandang, tak satupun kedipan kubuat

Pesonamu meluluhkan aku
Cantik dan lembut bak puteri Solo
Dan aku hampir menyesal karena sempat menolak bertemu denganmu, pujaanku

Beruntungnya aku, pria buruk rupa yang dijodohkan dengan puteri cantik
Tak kusangka cinta pada pandangan pertama juga terjadi padamu
Hingga akhirnya kunikahi kamu

Kini setiap bangun tidur selalu kutengok nafasmu
Ada ketakutan yang sangat bila engkau tak bangun lagi dari tidurmu
Di usia renta ini memang yang terpikir hanyalah “Siapa yang akan pergi duluan? Aku atau kamu?”

 ***

Kadang romantisme di pikiranku trus dituangkan ke tulisan, oke juga (wkwkwkwk, memuji diri sendiri). Berharap puisi itu adalah curahan hatinya suamiku. Hehehe. I love you my hubby ^___^

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Puisi: Cintaku Tak Ikut Renta"

Post a Comment